Share Up To 110 % - 10% Affiliate Program

Proses Produksi Prakerin Roti Ganep's



1.      Seleksi Bahan
Bahan baku merupakan faktor yang menentukkan dalam proses produksi atau pembuatan bahan makanan. Jika bahan baku yang digunakan mutunya baik maka diharapkan produk yang dihasilkan juga berkualitas. Evaluasi mutu dilakuakan untuk menjaga agar bahan yang digunakan dapat sesuai dengan syarat mutu yang telah ditetapkan oleh perusahaan, sehingga dihasilkan produk yang sesuai dengan standar mutu yang ditetapkan (Kamarijani, 1983).
2.     Penimbangan
Semua bahan ditimbang sesuai dengan formula. Penimbangan bahan harus dilakukan dengan benar agar tidak terjadi kesalahan dalam penggunaan jumlah bahan. Ragi, garam, dan bahan tambahan makanan merupakan bahan yang dibutuhkan dalam jumlah sedikit, tetapi sangat penting agar dihasilkan roti yang berkualitas baik sehingga harus diukur dengan teliti. Dalam penimbangan, sebaiknya tidak menggunakan sendok atau cangkir sebagai takaran (Mujajanto, 2004)
3.     Pengadukan atau pencampuran (Mixing)
Mixing berfungsi mencampur secara homogen semua bahan, mendapatkan hidrasi yang sempurna pada karbohidrat dan protein, membentuk dan melunakkan gluten, serta menahan gas pada gluten (gas retention). Tujuan mixing adalah untuk membuat dan mengembangkan daya rekat. Mixing harus berlangsung hingga tercapai perkembangan optimal dari gluten dan penyerapan airnya. Dengan demikian, pengadukan adonan roti harus sampai kalis. Pada kondisi tersebut gluten baru tebentuk secara maksimal. Adapun yang dimaksud kalis adalah pencapaian pengadukan maksimum sehingga terbentuk permukaan film pada adonan. Tanda-tanda adonan roti telah kalis adalah jika adonan tidak lagi menempel di wadah atau di tangan atau saat adonan dilebarkan, akan terbentuk lapisan tipis yang elastis. Kunci pokok dalam pengadukkan adalah waktu yang digunakan harus tepat karena jika pengadukkan terlalu lama akan menghasilkan adonan yang keras dan tidak kompak, sedangkan pengadukkan yang sangat cepat mengakibatkan adonan tidak tercampur rata dan lengket (Mudjajanto, 2004).
4.     Peragian (Fermentation)
Fungsi ragi (yeast) dalam pembuatan roti adalah untuk proses aerasi adonan dengan mengubah gula menjadi gas karbondioksida, sehingga mematangkan dan mengempukan gluten dalam adonan. kondisi dari gluten ini akan memungkinkan untuk mengembangkan gas secara merata dan menahannya, membentuk cita rasa akibat terjadinya proses fermentasi. Suhu ruangan 350C dan kelembaban udara 75% merupakan kondisi yang ideal dalam proses fermentasi adonan roti. Semakin panas suhu ruangan, semakin cepat proses fermentasi dalam adonan roti. Sebaliknya, semakin dingin suhu ruangan semakin lama proses fermentasi. Selama peragian, adonan menjadi lebih besar dan ringan (Mudjajanto, 2004).
5.     Pengukuran atau penimbangan adonan (Deviding)
Roti agar sesuai dengan besarnya cetakan atau berdasarkan bentuk yang digunakan adonan perlu ditimbang, Sebelum ditimbang, adonan dipotong-potong dalam beberapa bagian. Proses penimbangan harus dilakukan dengan cepat karena proses fermentasi tetap berjalan (Anomim3, 2007).
6.     Pembulatan adonan (Rounding)
Tujuan membuat bulatan-bulatan adonan adalah untuk mendapatkan permukaan yang halus dan membentuk kembali struktur gluten. Setelah istirahat singkat lagi, adonan dapat dibentuk menjadi panjang seperti yang dikehendaki. Jika adonan terlalu ditekan maka kulit akan menjadi tidak seragam dan pecah (Anomim3, 2007).
7.      Pengembangan singkat (Intermediate Proof)
Intermediate proof adalah tahap pengistirahatan adonan untuk beberapa saat pada suhu 35-360C dengan kelembaban 80-83% selama 6-10 menit. Langkah tersebut dilakukan untuk memepermudah adonan diroll dengan  roll  pin  dan  digulung. Selanjutnya,  adonan  yang  telah  dicampur hingga kalis dilanjutkan dengan proses peragian (Mudjajanto, 2004).
8.     Pembentukan Adonan (Moulding)
Tahap  pembentukan  adonan  dilakukan  dengan  cara  adonan  yang telah   di   istirahatkan   digiling   pakai   roll   pin,   kemudian   digulung   atau dibentuk sesuai dengan jenis roti yang di inginkan. Pada saat penggilingan, gas yang ada di dalam adonan keluar dan adonan mencapai ketebalan yang di  inginkan  sehingga  mudah  untuk  digulung  atau  dibentuk  (Mudjajanto,2004).
9.     Peletakan adonan dalam cetakan (Panning)
Adonan yang sudah digulung dimasukkan kedalam cetakan dengan cara   bagian   lipatan   diletakkan   di   bawah   agar   lipatan   tidak   lepas   yang mengakibatkan  bentuk  roti  tidak  baik.  Selanjutnya,  adonan  di  diamkan dalam  cetakan   (pan  proof).  Sebelum   dimasukkan  kedalam   pembakaran proses   ini   dilakukan   agar   roti   berkembang   sehingga   hasil   akhir   roti diperoleh dengan bentuk dan mutu yang baik (Mudjajanto , 2004).
10. Pembakaran   (baking)
Setelah   dibentuk   sesuai   yang   dikehendaki   dan   dikembangkan secara  optimal,  adonan   siap  dipanggang  di  dalam   oven.  Ada  dua  cara memanggang  roti,  yaitu  dengan  uap  dan  tanpa  uap,  tergantung  jenis  roti yang dibuat.  Untuk  beberapa jenis  roti, memanggang dengan uap  itu lebih baik,  atau  memang  perlu  untuk  memberikan  uap  di  dalam  oven.  Ini  akan menghasilkan  kelembapan  yang  tinggi  dalam  oven  yang  akan  menjaga
kulit  roti  tetap  basah,  sehingga  oven  proof  lebih  baik  dan  pengembangan volume  roti  dicapai.  Proses  pemasakan  roti  memerlukan  suhu  mulai  dari suhu  26oC-100oC.  Proses  fisik  adalah  penguapan  alkohol  dan  air.  Proses pemanggangan   terjadi   di   kulit,   dimana   berbagai   jenis   gula   menjadi karamel dan memberi warna pada kulit (Anomim3, 2007).

Sign up here with your email address to receive updates from this blog in your inbox.